Sabtu, 16 Oktober 2010

Sederhana namun bersahaja

Siang ini selera makan saya tiba - tiba hilang,entah kenapa padahal saya tidak sakit apalagi patah hati karena putus cinta (halah...kayak lagu dangdut lagi -_-,).

Saat - saat seperti ini saya teringat betapa lahapnya saya dulu makan di tengah persawahan yang menghampar sepanjang mata memandang,tidak peduli cuaca hujan dan panas selera makan saya tetap menggebu - gebu walau hanya dengan lauk seadanya di tambah sayur daun singkong yang cuma direbus pake garam plus bawang,dan tidak lupa samba lado(sambel khas orang minang ^__^).
Semua moment itu hanya bisa saya dapatkan di saat - saat liburan sekolah dimana saya harus membantu orang tua menggarap sawah atau disaat musim panen tiba,waktu itu saya masih duduk di bangku STM (sekarang SMK),yah...saya hanya seorang anak petani biasa yang tidak punya lahan luas untuk di garap demi untuk menambah biaya sekolah saya dan adik - adik orang tua saya juga menggarap lahan milik orang lain dengan cara bagi hasil.

Sebuah kesederhanaan yang mengajarkan saya untuk bisa mandiri dan tidak cengeng,dan tidak selalu harus merengek kepada kedua orang tua untuk meminta ini itu.Saya juga salut dengan anak - anak petani lainnya yang bisa sukses dan melalui kesederhanaan mereka tanpa harus banyak mengeluh dan menghayal tentang ini itu yang hanya membuat kita malas untuk terus bergerak maju.

Walaupun negeri ini katanya kaya akan berbagai sumber daya alam,dan sebagai anak seorang petani kadang saya sedih melihat nasib para petani yang seharus nya dengan kerja keras mereka yang tidak setengah - setengah untuk mendapatkan hasil bisa dihargai dengan pantas,bayangkan saja harga pupuk yang mahal dan harga beras yang dibeli dari petani oleh para toke atau pengusaha tidaklah seimbang,di tambah lagi negeri ini mengimpor beras dari negeri tetangga yang luasnya hanya sepersekian dari negeri ini yang membuat harga beras lokal yang mutunya lebih bagus dan rasanya lebih enak menjadi semakin terpuruk (ironis memang).
Saya tidak akan mengeluh tentang masalah klasik ini,walau dari SD (berpuluh tahun yang lalu) saya di doktrin bahwa Indonesia sedang menggalakkan SWASEMBADA beras dan sampai saat ini saya tidak mengerti akan arti dari "swasembada beras" tersebut -_-.


*Terimakasih buat kedua orang tua saya yang sudah mengajarkan tentang kesederhanaan dan hidup mandiri sedari kecil,Khususnya Bunda tersayang yang telah mendidik saya dari kecil tentang agama...semoga kelak anak mu ini bisa mengantarkan mu ke Tanah Suci memenuhi panggilan NYA.

11 komentar:

  1. Assalamualaikum Kang,
    postingannya mengingatkan akan kampung halaman di lereng G semeru, makan di sawah dengan segala kesederhaan dan segala kenikmatan yang tak terbeli

    Terakhir, cita-cita yang mulia mengantarkan orang tua ke Tanah Suci, amiin ... Pakies ikut mendoakan,karena tidak ada kebahagiaan dan kepuasan sejati selain bersujud di pelataran thawaf Masjidil Haram

    BalasHapus
  2. Waalaikum salam Kang Pakies...
    he3..emang ni,makan disawah itu memberikan sensasi yang lain dari pada yang lain,panorama alam persawahan dengan latar belakang gunung dan perbukitan serta suara gemericik air sungai plus musik alam dari kicauan burung2 ^_^

    BalasHapus
  3. untuk urusan yg satu ini kita sama Brader hhe.. akupun selalu diajarin gtu dari kecil.. jadi klo cuma terpaksa puasa kayanya tetep gak ngaruh haha.... org kecilnya juga biasa begitu haha.... iya ya.. aku juga jadi kengen pengen ng'liat sawah huh.... dan yg pasti makan sambil ditemenin burung yg pada ngamen haha....

    Happy blogging n sukses brad :P

    BalasHapus
  4. saya dukung do'a kang, semoga mak nya akang cepet naik haji.. labik Allah humma labaiiik..

    BalasHapus
  5. sungguh ironis memang, apa yang terjadi di neregi ini seoLah "ayam mati di Lumbung padi". menyikapi haL tersebut suLit untuk mendapatkan pembenaran dan menuntut kepada pihak2 terkait, jaLan tengahnya adaLah dikembaLikan kepada diri kita sendiri untuk dapat hidup dengan kesederhanaan. yakni, waLaupun tidak berLebihan tetapi diharapkan tidak merasa kekurangan. dengan demikian akan Lebih baik, agar tidak saLing menyaLahkan dan disaLahkan antara satu pihak dengan pihak Lainnya. semoga.

    BalasHapus
  6. Klo situ liat sawah,ane lihat sungai adja hehehe

    maklum dekat home nggak ada sawah adanya sungai yang menjadi kolam renang pribadai :D

    BalasHapus
  7. Selalu ada kebahagiaan disudut terkecil sekalipun :D

    BalasHapus
  8. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

    BalasHapus
  9. Huh.. sampe disini hati mendadak fresh klo baca2 tentang sawah lagi hhe..... btw, lagi sibuk nie kayanya Brader...hhe... semangat aja deh .... Happy blogging Brow...

    BalasHapus
  10. makan di sawah enak rasanya ... ada angin bertiup ada burung yang terbang...ahhh nikmat hidup

    BalasHapus

Mengkritik tidak berarti menentang,setuju belum tentu mendukung,menegur tidak bermakna membenci,berbeda pendapat adalah kawan berpikir yang baik